Psychology – Psikologi

Banyak hal berharga yang saya dapatkan di dalam mata kuliah pedagogi ini. Bukan hanya pelajaran mengenai seluk-beluk pedagogi saja yang saya dapatkan, melainkan juga sejumlah pengalaman berharga selama mengikuti proses kuliah yang diampuh oleh Ibu Filia Dina Anggaraeni ini.

Microteaching merupakan program dari mata kuliah ini yang menurut saya paling banyak mengajari saya. Saya belajar banyak di sini. Salah satu pelajaran berharga yang saya dapat di sini adalah bahwa dunia anak-anak itu adalah dunia yang sangat menyenangkan. Tidak ada beban pikiran di dalam diri mereka semua.

Hal lain yang juga menjadi pelajaran bagi saya adalah bagaimana cara menghandle sebuah tim supaya tim yang saya pimpin bisa berfungsi secara maksimal. Cukup banyak sekali masalah yang kami hadapi sebagai tim. Pada saat-saat seperti inilah, banyak pelajaran yang bisa kami dapatkan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Mengenai perkuliahan yang dilakukan secara online, menurut saya ini adalah metode yang paling unik jika dibandingkan dengan mata kuliah yang lain. Tidak ada mata kuliah lain di Fakultas Psikologi USU yang menggunakan metode perkuliahan online selain mata kuliah yang diampuh oleh Ibu Filia Dina. Namun saya melihat sedikit kelemahan dalam metode ini. Mahasiswa yang kesulitan mendapatkan koneksi internet (modem maupun wi-fi) tentu akan sangat terganggu dengan metode ini. Selain itu, proses komunikasi melalui sistem online juga menjadi sebuah kendala karena banyak sekali percakapan yang dilakukan dalam satu waktu. Sehingga ini bisa membuat mahasiswa menjadi malas untuk membaca satu per satu obrolan yang diposting di grup chat.

Terima kasih kepada semua teman-teman yang sudah terlibat bersama saya di dalam setiap proses perkuliahan mata kuliah pedagogi ini. Dan khususnya terima kasih banyak kepada Ibu Filia Dina yang sudah dengan sabar dan tekun memimpin jalannya mata kuliah Pedagogi yang luar biasa ini. Terima kasih semuanya.🙂

Kelompok 4
Anggota              :  Dwika Septian Ihsan      (091301013)
                                   Rizqi Chairiyah               (101301007)
                                   Vivian Felicia                  (101301043)
                                Zukhrini Khalish N         (101301053)
                                Dealovalia Hasibuan      (101301074)
                                Putra Pratama                 (101301100)

 

A. Kelompok tidak mencantumkan evaluasi kelompok

Adapun Evaluasi kelompok kami yaitu:

  1. Saat proses micro teaching seluruh anggota kelompok seharusnya hadir, namun satu oang tidak dapat hadir karena keadaan fisik yang kurang fit.
  2. Proses yang seharusnya dimulai pada pukul 09.00, mengalami keterlambatan sekitar 30 menit.
  3. Proses dokumentasi yang berjalan kurang sempurna karena seharusnya di dokumentasikan oleh dua orang namun saat proses hanya satu orang yang mendokumentasikan. Hal ini membuat beberapa moment saat proses micro teaching tidak terekam seluruhnya. Terutama saat dokumentasi opening, dimana saat MC menjelaskan mengenai global warming secara singkat pada anak-anak, tujuan dari pembelajaran ini, proses pembuatan celengan, serta manfaat celengan, semua hal tersebut secara tidak sengaja tidak didokumentasikan. Oleh karena itu, di video dokumentasi, kelompok tidak bisa memperlihatkan bagaimana opening yang seharusnya memberikan gambaran mengenai proses micro teaching ini.
  4. Proses micro  teaching berlangsung sekitar satu jam dari 09.30 – 10.30
  5. Pembagian reward dilakukan setelah proses closing, namun kelompok mengalami kekeliruan karena membagikan makanan ringan yang sebenarnya dilarang untuk mereka konsumsi. Setelah kelompok membagikan makanan ringan tersebut, kepala sekolah menjelaskan kepada kelompok bahwa sebenarnya sekolah melarang pemberian makanan ringan.
  6. Penyambutan yang dilakukan oleh anak – anak TK cukup antusias, mereka menyambut kami dengan ucapan “Selamat Datang di sekolah kami, abang – abang dan kakak – kakak”. Sebenarnya hal ini sedikit diluar dugaan kami.
  7. Standart kompetensi yaitu;  Siswa mampu memahami bahwa barang-barang bekas dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat, dan siswa memiliki kesadaran akan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya. Sudah tercapai, namun tidak terekam dalam dokumentasi.
  8. Tujuan
  9. Perencanaan Waktu yang telah kami konsep, yaitu:

B. Seorang anggota kelompok (Rizqi Chairiyah) tidak dapat hadir karena alasan keterlambatan.

C. Dalam kegiatan ini, kami bukanlah seorang guru, melainkan seorang pengajar, yang mengajarkan dan saling berbagi dengan para siswa. Dalam hal pemberian istilah pada laporan hasil micro teaching, kelompok memang melakukan kesalahan dengan menyebut kami adalah guru, padahal lebih tepat disebut sebagai pengajar ataupun fasilitator. Hal ini karena kami memang bukan guru, dan peran kami adalah mengajarkan atau memberikan pengetahuan pada anak-anak mengenai go green dengan melibatkan mereka untuk berkreativitas dalam memanfaatkan barang-barang bekas menjadi sebuah celengan.

D. Secara keseluruhan proses yang kami lakukan tidak dapat terlihat dalam dokumentasi. Kelompok kami mengevaluasi kembali dan sepakat bahwa dokumentasi video yang dibuat tidak dapat memperlihatkan detail-detail saat kami melakukan micro teaching, seperti bagaimana kami mengajar anak-anaknya berkreasi, bagaimana kami berinteraksi dengan anak-anak dalam kelas dan detail-detail yang bisa menggambarkan bahwa kami memang melakukan micro teaching. Video dokumentasi kami hanya memperlihatkan proses makro, dimana hanya memperlihatkan sekedar pembukaan, pemisahan anggota-anggota dalam kelompok dan sedikit penutupan. Oleh karena itu, kelompok akan menjelaskan proses micro teaching kami dibawah ini bersamaan dengan poin ke 5.

E. Penjelasan proses yang kami lakukan kurang real. Kelompok kami mengakui, memang dalam penjelasan di laporan pelaksanaan micro teaching kami kurang lengkap dan mendetail, sehingga orang yang membaca laporan pelaksanaan micro teaching kami kurang memahami apa yang sebenarnya kami lakukan.

Adapun laporan detail proses pelaksanaannya, yaitu :

Materi pengajaran (mengolah barang bekas) berhasil kami sampaikan dengan baik kepada peserta didik, namun pada proses pelaksanaan microteaching ini, terdapat beberapa kendala pula sehingga kami harus melakukan cukup banyak improvisasi. Kira-kira inilah kesimpulan dari evaluasi kelompok kami.

Pada tanggal 17 April, kami mengunjungi TK Dharma Pancasila untuk meminta izin pada kepala sekolahnya sekaligus memberikan surat permohonan. Setelah berdiskusi selama beberapa saat mengenai kegiatan microteaching yang akan kami lakukan di sana, kepala sekolah menerima kami dengan antusias. Beliau menyuruh kami untuk datang dua hari berikutnya, hari Kamis (19 April), pada jam 9 untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

Kendala pertama yang kami hadapi di sini adalah bahwa kami tidak sempat untuk mengenali siapa individu-individu yang akan menjadi peserta didik kami. Kami datang ke sekolah tersebut sudah terlalu siang dan murid-muridnya sudah pulang, sehingga kami tidak bisa bertemu langsung dengan mereka untuk lebih menyesuaikan materi yang akan kami ajarkan. Kami hanya mendapat informasi mengenai peserta didik dari wawancara singkat yang kami lakukan terhadap kepala sekolahnya.

Pada hari kamis tanggal 19 april 2012 kelompok melaksanakan kegiatan micro teaching di TK Dharma Pancasila. Rencananya kami datang ke sekolah tersebut satu jam sebelum jam yang sudah dijanjikan. Akan tetapi karena beberapa persiapan yang masih kurang (kami lupa membuat sebuah model celengan sebagai contoh) dan cuaca yang kurang mendukung (hujan), akhirnya kami tiba di sekolah tersebut tidak sesuai rencana. Kami tiba kira-kira pada pukul 8.45, lima belas menit sebelum kelas dimulai.

Kami masuk ke dalam kelas dengan ditemani kepala sekolah. Setelah kepala sekolah memperkenalkan kami kepada peserta didik dan saling mengucapkan salam, kelas pun mulai kami yang ambil alih. Kami memperkenalkan diri kami masing-masing terlebih dahulu, kemudian kami mengajak satu per satu peserta didik kami untuk memperkenalkan diri mereka di depan kelas. Melihat mereka yang sangat antusias dalam memperkenalkan diri, kami akhirnya memperpanjang waktu perkenalan dengan mengajak mereka untuk menyebutkan cita-cita masing-masing.

Kelompok memulai micro teaching diawali dengan pembukaan dari MC, yaitu Johan. Johan memulai kelas dengan menyapa anak-anak dan bercanda sedikit dengan mereka. Setelah itu, Johan mengambil botol aqua kosong dan menanyakan pada anak-anak apa yang mereka lakukan setelah botol aqua itu habis. Ada beberapa anak yang menjawab membuang botol tersebut. Kemudian Johan menanyakan lagi, apakah mereka tahu bahwa sebenarnya botol bekas ini bisa dimanfaatkan. Kemudian ada anak yang mengacungkan jarinya sambil berkata, “saya tahu, saya tahu.” Lalu anak tersebut mengatakan bahwa botol bekas tersebut bisa dijadikan sebagai mobil-mobilan. Lalu Johan mengiyakan dan sedikit menjelaskan pendapat anak tersebut. Kemudian Johan menambahkan, “Nah, kalian tahu gak sih kalau botol aqua tersebut  bisa dijadikan celengan?”. Kemudian johan melanjutkan dengan menjelaskan kepada anak-anak mengenai kaitan tidak membuang barang bekas dan menjaga lingkungan. Semua penjelasan kepada peserta didik menggunakan bahasa yang ringan dan menarik mengenai materi yang akan diajarkan pada hari tersebut. Tidak ada masalah apapun pada sesi ini, kecuali bahwa dokumenter lupa menekan tombol ‘rekam’ pada kameranya. Akhirnya, kelompok menjadi kekurangan bahan dokumentasi untuk sesi pembukaan ini.

Setelah sesi pendahuluan dari Johan, kemudian anggota kelompok masuk ke dalam kelompok-kelompok kecil. Adapun Rizqi masuk dalam kelompok dengan 4 orang anak, Putra masuk juga dalam kelompok 3 orang anak, sedangkan Zukhrini dan Dealovalia sama-sama masuk dalam kelompok 4 orang anak. Vivian dan Johan berperan sebagai dokumentasi dan kadang-kadang ikut serta membantu dalam proses mengajar dan mengarahkan anak-anak di kelompok.

Setelah itu anak-anak TK mulai mengerjakan prakarya celengan dengan dibantu oleh masing-masing pengajar disetiap kelompok. Adapun detail kegiatan di masing-masing kelompok adalah:

–          Pengajar masing-masing kelompok pertama-tama menjelaskan kepada anak-anak barang apa saya yang digunakan, seperti botol aqua bekas, kertas koran, kertas kalender, brosur dan kertas-kertas yang sudah tidak dipakai lagi.

–          Masing-masing anak mendapatkan 1 buah botol aqua bekas. Namun bahan-bahan untuk menghiasnya diletakkan di meja masing-masing kelompok untuk digunakan secara bersama-sama.

–          Pengajar masing-masing kelompok kemudian mengarahkan proses membuatnya mulai dari memotong celah untuk memasukan koin. Namun, kami tidak meminta anak-anak untuk memotongnya karena kami sudah memotongnya terlebih dahulu. Kami juga menjelaskan jika mereka ingin membuatnya lagi, mereka harus meminta orang dewasa untuk memotong celahnya karena masih berbahaya jika mereka yang memotong sendiri.

–          Setelah menjelaskan mengenai celah, pengajar masing-masing kelompok mulai meminta anak-anak menghias sendiri. Namun kami juga turut mengarahkan mereka dan membantu dalam hal mengelem, melipat, serta menggunting gambar-gambar yang mereka inginkan dari brosur.

–          Setelah semua anak dari suatu kelompok telah selesai, pengajar meminta mereka untuk membuang sampah pada tempatnya. Masing-masing dari kami juga memberitahukan pada mereka bahwa dengan membuang sampah berarti mereka telah ikut menjaga lingkungan; dimana hal ini sejalan dengan tema kelompok kami, go green.

Setelah semua kelompok siap, guru pun mempersiapkan anak-anak untuk makan bersama, dimana hal ini rutin juga dilakukan setiap harinya. Sambil menunggu mereka makan, kami melakukan rapat mendadak untuk menentukan apa yang akan kami lakukan berikutnya. Seharusnya ada sebuah lomba kecil-kecilan dengan memanfaatkan barang-barang bekas sebagai penutupan, tetapi karena persiapan peralatan kami yang agak kurang serta keterbatasan waktu, akhirnya lomba itu pun kami tiadakan. Setelah selesai rapat kecil-kecilan, anggota-anggota kelompok pun duduk bersama anak-anak dalam kelompok-kelompok dan berinteraksi dengan mereka saat mereka makan.

Setelah makan bersama, kelompok pun mengajak guru dan anak-anak foto bersama sebagai dokumentasi. Kami mengajak peserta didik kami untuk foto bareng bersama celengan yang sudah mereka buat masing-masing Kemudian setelah foto bersama, anak-anak berbaris diluar kelas karena sudah saatnya mereka pulang. Saat anak-anak berbaris, kelompok pun membagikan reward kepada mereka. Setelah selesai mengucapkan salam perpisahan dan membagikan reward pada anak-anak, kelompok pun berbincang sebentar dengan kepala sekolah. Kepala sekolah mengundang kami ke dalam ruangannya ketika kami sudah mengakhiri proses microteaching. Beliau memberi kami beberapa feedback terhadap proses yang sudah kami lakukan. Secara garis besar, beliau sangat senang dengan pengajaran yang sudah kami berikan. Tetapi ada satu hal yang dikomentarinya, yaitu mengenai reward yang kami bagikan kepada peserta didik. Sekolah ternyata melarang peserta didiknya untuk mengonsumsi snack tersebut karena alasan kesehatan. Ini juga termasuk kelemahan dari kami, karena kami lupa mendiskusikan masalah reward dengan kepala sekolah sebelum kami membagikannya. Kami pun meminta maaf atas kelalaian kami. Setelah selesai, kami pun pamit dan pulang dari TK Dharma Pancasila.

F. Laporan proses pengajaran dan evaluasi serta testimoni dari masing-masing anggota kelompok :
 

Johan Wibawa

Menjadi ketua dalam kelompok microteaching ini adalah tugas yang gampang-gampang susah. Gampang karena orang-orang yang saya pimpin adalah teman-teman saya sendiri, sehingga proses komunikasi menjadi lebih  mudah. Susah karena ada satu atau dua anggota yang agak sulit untuk diajak bekerja sama. Ini mungkin termasuk kelemahan dari saya sendiri. Saya tidak berhasil membuat kelompok ini sebagai kesatuan yang solid.

Bukan hanya itu, saya juga merasa bahwa saya kurang memperhatikan kinerja anggota-anggota saya. Misalnya, saya tidak tahu bahwa salah satu anggota saya lupa memasang Link anggota-anggota yang lain di Blog-nya.

Namun secara keseluruhan, saya merasa cukup puas karena meskipun ada banyak kendala, proses microteaching ini tetap berjalan lancar dan sukses.

Dealovalia Hasibuan

Sewaktu berada dalam kelompok kecil, sangat seru sekali rasanya soalnya anak – anak TK tersebut sangat aktif dan juga sangat bersemangat dan juga lincah. Mereka tidak mau duduk diam ditempatnya. Mereka selalu saja berpindah kekelompok lain untuk melihat hasil karya teman – temannya yang lain dan mereka selalu ingin membuat yang lebih bagus lagi dari punya teman mereka. Apa yang mereka tidak punya dalam kelompok kecil dan dimiliki oleh temannya yang berada dikelompok lain maka mereka meminta untuk di ajar kan membuat hal yang sama dengan temannya tersebut. Setelah mereka selesai mengerjakan hasil karya mereka, mereka dengan antusias dan semangat menunjukkan hasil karya mereka kepada guru, teman dan juga kami sebagai pembimbing mereka dalam mengerjakan hasil karya mereka, mereka juga dengan antusiasnya berkata ingin menabung dan mengisi celengan tersebut hingga celengan tersebut penuh.

 

 

Dwika Septian Ihsan

Sebelum saya merivew micro teaching dari sudut pandang pribadi sebagai video editor, saya ingin mengklarifikasi bahwasanya saat pelaksanaan saya tidak berada di lapangan, karena sakit pada H -1. Untuk itu saya hanya akan mengurai berbagai kendala pada teknis data yang sudah terkumpul.

Masalah pertama jelas, secara pribadi karena saya tidak ikut serta di lapangan, saya mengakui adanya kekurangan koordinasi diantara teman-teman, apalagi saya tidak serta merta ikut merasakan bagaimana tiap detil peristiwa selama proses, dan ini merupakan sumber masalah terbesar yang mempengaruhi hasil editing video ini. Itulah mengapa di video detil proses kurang jelas, akan tetapi saya tidak hanya diam disana, saya juga mencoba untuk menghadirkan diri pada prosesnya, dengan mendengarkan berbagai penuturan teman-teman dilapangan. Salah satu kendala saat dokumentasi adalah pembukaan tidak terekam oleh teman-teman.

Video ini juga tidak menjelaskan tujuan secara sistematis, karena video telah selesai di edit sebelum laporan fix, dan satu hal yang mungkin kami lupa, kami tidak menyatakan tujuan ini di dalam konsep. Disamping itu dari saya pribadi, saya memang lupa memerhatikan antara konsep dan hasil, sehingga evaluasi dari pelaksanaan dan tujuan nya tidak tersajikan di dalam video.

 

Putra Pratama

Pada awal melakukan micro-teaching di kelompok – kelompok kecil murid TK dharma pancasila, saya menjelaskan bahwa kita dapat membuat berbagai karya kreatif dari barang bekas, kemudian saya menjelaskan botol bekas dapat dijadikan sebagai celengan. Siswa TK dharma pancasila sangat antusias dalam mendengarkan penjelasan saya. Setelah menjelaskan kegunaan botol bekas tersebut, saya mulai mengajarkan mereka cara membuat celengan tersebut. Pada awalnya saya membuat lubang pada bagian leher botol bekas tersebut dan membantu siswa TK untuk menghiasnya. Saya membantu mereka melapisi botol bekas dengan kertas kalender bekas dan kemudian mengawasi mereka dalam menempelkan hiasan berbentuk bintang, segitiga, segiempat dan lingkaran yang sudah saya sediakan sebelumnya. Mereka sangat aktif sehingga pada awalnya saya sempat kewalahan, tetapi kemudian saya berimprovisasi untuk mengajak mereka menenmpelkan hiasan bersama – sama sehingga mereka tidak berebutan dalam menempelnya. Disela-sela menghias celengan, saya menjelaskan kepada mereka bahwa penting untuk menjaga lingkungan tetap bersih agar kita  dapat hidup dengan nyaman dan jika lingkungan bersih,  maka kesehatan kita akan tetap terjamin. Saya juga mengajarkan mereka untuk membuang sampah pada tempatnya.

 

Rizqi Chairiyah

Pengalaman saya selama melakukan micro teaching pada kelompok yang saya pilih, merupakan pengalaman yang sangat berkesan. Mengapa? Ya, awalnya saya harus beradaptasi terlebih dahulu dengan Tania, Hafiz, Jasmine, dan Nabil. Melihat perilaku mereka yang pada awalnya malu-malu dan ada juga yang berani bertanya ‘mau membuat apa kita kak?’ dan ada juga yang pendiam, sehingga banyak variasi perilaku yang saya hadapi ketika melakukan Micro Teaching pada kelompok ini. Setelah Johan memberikan arahan kepada adik-adik, kemudian giliran saya menjelaskan cara pembuatan celengan dari botol minuman bekas. Respon mereka yang sangat antusias mendengar penjelasan saya tentang pembuatan celengan tersebut, semakin membuat saya bersemangat. Saya mengajarkan serta mengarahkan mereka agar mereka dapat membuat celengan dari botol bekas yang telah saya persiapkan untuk mereka. Proses micro teaching yang saya lakukan pada kelompok kecil ini, sangat menyenangkan dari mulai membantu mereka merekatkan hiasan pada gotol hingga membuat burung-burungan dari kertas kalender.

Suatu hal yang membuat saya merasa semakin tertarik ketika saya harus melerai Nabil dan Hafiz saat mereka bertengkar memperebutkan botol yang mereka miliki. Waktu juga yang memisahkan kebersamaan kami, dan akhirnya sebelum kami pulang, kami memberikan buah tangan kepada mereka serta saya  sempat menyampaikan pesan kepada kelompok kecil yang saya bimbing tadi, berupa ‘kalian jangan malas belajar yah adik-adik’. 🙂

 

Vivian Felicia

Dalam proses micro teaching, saya lebih berperan sebagai dokumentasi dari pada pengajar. Walaupun demikian, pada akhirnya saya juga tidak tahan untuk turut mengajar dan berinteraksi dengan anak-anak tersebut. Saya pun ikut berpartisipasi dalam proses pengajaran. Awalnya saya mengajak beberapa anak untuk membuat hiasan mereka sendiri. Saya pun melipat bintang dengan menggunakan kertas kalender. Beberapa anak melihat saya dan ingin ikut melipat. Saya pun mengajari mereka, namun beberapa kali saya ajari, mereka juga tidak bisa melipatnya. Saya pun memaklumi karena melipat bintang masih cukup sulit untuk diterima oleh anak-anak TK. Namun, dari hal ini saya mendapatkan pengalaman baru, yaitu bahwa tidak semua hal yang kita ajarkan bisa diterima dan dimengerti oleh anak-anak. Oleh karena itu, kita harus sadar apakah bahan yang kita ajarkan bisa mereka terima atau tidak, serta harus sabar dan melihat sesuatu dari sudut pandang anak-anak juga.

Zukhrini Khalisah

Proses micro teaching yang saya jalani ini memberikan tambahan ilmu dan pengalaman. Bebagi ilmu dengan adik – adik TK Dhama Pancasila yang lucu dan antusias memberi penguatan tersendiri bagi saya untuk semangat mebagikan ilmu. Saya juga menyadari betapa beratnya menanamkan pengetahuan dan kesan moral yang baik bagi anak – anak. Saat proses berlangsung banyak juga anak – anak yang sangat aktif, berlari – lari, rebutan dan saling bersaing demi mendapat perhatian, hal itu membuat saya kewalahan menghadapi anak -anak tersebut. Jadi sebagai pengajar, saya merasa tertuntut untuk memberikan perhatian yang seimbang. Menjadi guru memang harus cerdas, cermat, adil, dan sabar. Saya senang bisa berbagi sedikit ilmu yang saya miliki kepada mereka.

Kelompok 4
Anggota              :  Dwika Septian Ihsan      (091301013)
                                   Rizqi Chairiyah               (101301007)
                                   Vivian Felicia                  (101301043)
                                Zukhrini Khalish N         (101301053)
                                Dealovalia Hasibuan      (101301074)
                                Putra Pratama                 (101301100)

Sekolah                       : TK DHARMA PANCASILA

Jumlah Murid              : 11 Orang
Usia Murid                  : Rata-rata 5 Tahun
Tema Pengajaran         : Go Green
Standar Kompetensi   : Siswa mampu memahami bahwa barang-barang bekas dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat, dan siswa memiliki kesadaran akan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya.
Alokasi Waktu            : 60 menit
I.      Pendahuluan
          Pada zaman sekarang ini, banyak orang kurang peduli terhadap lingkungannya. Mereka terbiasa membuang barang sekali pakai, contohnya setelah mengkonsumsi makanan ringan, kemasan pembungkusnya langsung dibuang begitu saja. Bila terus dibiarkan hal ini akan menjadi pencemaran lingkungan yang berdampak negatif terhadap diri mereka. Limbah dari bahan plastik merupakan limbah yang paling berbahaya, karena sulit dihancurkan dalam waktu singkat, jika ditanam akan sulit melebur, sedangkan jika  dibakar akan menghasilkan senyawa karbon monoksida, serta partikel dioksin dan klorin yang sangat berbahaya. Selain plastik, banyak juga limbah yang mencemari lingkungan dan sulit diuraikan oleh bakteri, seperti kertas, kaleng bekas, logam, sterofoam dan sebagainya.
            Mengingat banyaknya barang bekas yang sudah tidak terpakai dan hanya menjadi sampah, membuat kami tertarik untuk membahas topik ini. Selain mengurangi sampah, juga bisa menghasilkan barang yang berguna serta bernilai seni dan ekonomi. Memanfaatkan barang bekas, bukan hanya tugas orang dewasa, tetapi juga harus mulai diajarkan sejak dini. Anak – anak perlu memahami pentingnya menjaga lingkungan.
          Dari latar belakang tersebut, kami merasa pelu membantu adik – adik usia dini untuk sama – sama menjaga lingkungan. Kegiatan  Micro Teaching  yang bertemakan “Go Green” dengan berfokus kepada pemanfaatan barang bekas yang akan dilaksanakan di Taman Kanak – Kanak Dharma Pancasila, Medan, diharapkan mampu memberikan pengajaran kepada anak usia dini tentang pentingnya menjaga lingkungan.
      II.  Landasan Teori
     Banyak orang yang mengatakan mengajar adalah ilmu, dimana kegiatan mengajar harus bebasis dan dipandu oleh ilmu. Konsep ini menekankan pada aspek ilmiah dalam kegiatan pengajaran dan berfokus pada cara-cara melakukan sistematisasi komunikasi antara guru dan siswa. Konsep ini percaya bahwa adalah mungkin untuk secara sistematis memilih bahan, mengatur interaksi guru dengan siswa, interaksi antar sesama siswa, dan menentukan bahan-bahan yang harus dipelajari oleh siswa, sehingga mengurangi kemungkinan kegiatan pembelajaran terjadi secara kebetulan.
    Banyak orang juga percaya mengajar adalah seni. Konsep ini memposisikan mengajar sebagai aktivitas “ilmiah” memang dapat diformalkan, namun jika dipaksakan, akan terjadi birokratisasi dan pemaksaan aktivitas belajar. Penganut konsep ini berpendapat bahwa mengajar sebenarnya merupakan intuisi, improvisasi, dan ekspesi.
     Guru harus mampu melakukan dan menangani proses kreatif secara tidak terduga di dalam kelas. Dalam kegiatan mengajar, tidak ada resep gagal-aman secara rutinitas. Aktivitas yang paling penting dari kegiatan mengajar adalah mengelola peristiwa-peristiwa yang terjadi selama proses pembelajaran itu.
     Intinya, setiap guru harus siap menerima semua perilaku anak-anak dalam kelas, karena anak-anak pada umumnya berperilaku secara spontan.
III. Tujuan Pembelajaran
1.      Memiliki kesadaran untuk menjaga keindahan lingkungan (Bumi) dengan membuang sampah pada tempatnya
2.      Memahami bahwa barang-barang bekas (sampah) dapat diolah menjadi sesuatu yang berguna
3.      Meningkatkan kreativitas
4.      Mengetahui manfaat menabung
5.      Memiliki kebiasaan menabung sejak dini
IV. Metode Pembelajaran
1.        Workshop
Guru-guru berhadapan langsung dengan murid dan mengajari mereka langkah-langkah membuat celengan.
2.      Diskusi
Sebelum, selama, dan setelah proses workshop, guru-guru terus mengajak siswa-siswinya untuk berdiskusi mengenai manfaat celengan, manfaat membuang sampah pada tempatnya, dan manfaat mengolah barang bekas menjadi sesuatu yang berguna.

V.  Alat dan Bahan Pembelajaran

1.      12 buah botol bekas
2.      Kertas-kertas bekas (Majalah, Brosur, Kalender, HVS)
3.      Gunting
4.      Lem
5.      Koin-koin
VI. Langkah-langkah Pembelajaran
VII. Video Dokumentasi
 
VII. TESTIMONI
  • Johan Wibawa
Capek, tapi SERUUUUU…. itulah pendapat pribadiku mengenai kegiatan micro teaching ini. Capek karena agak susah meng-handle murid-murid yang super aktif, dan Seru karena ini adalah pengalaman pertama mengajar anak-anak kecil seperti mereka.
Selain itu,  pada tahap persiapan/perencanaan juga banyak sekali hal yang dapat menjadi pelajaran bagi pribadi aku. Capek dan Seru juga tentunya… Capek karena mengalami sedikit kesulitan dalam mencari ide/topik pengajaran, dan SERU karena semua anggota kelompok kami bisa diajak bekerja sama dengan sangat baik!
Overall, kegiatan ini benar-benar CAPEK dan SERUUUUUUUU….😀
  • Dwika Septian Ihsan
 Sayang, saya tidak bisa ikut serta pada pelaksanaan micro teaching ini. Sebelum hari H saya sakit mendadak. tapi Alhamdulillah saya dapat ikut serta merasakan kegembiraan prosesi ini dengan melihat dokumentasi dari teman-teman, terlebih ketika saya diberi amanah menyunting dokumentasi menjadi video berdurasi 8 menit, serasa saya berada disana dan melihat tingkah lucu mereka. Mendengar cerita teman-teman, agak sulit memang membangun kondisi yang komunikatif dengan anak-anak, didasari sifat mereka yang spontanitas dan aktif, serta memang mereka dalam kehidupan untuk bermain. tapi dsitulah tantangannya, bagaimana menanamkan etika dan moral sejak dini menjadi yang menjadi harapan. Intinya, luar biasa…

“belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu..”

  • Rizqi Chairiyah
Proses micro teaching yang saya dan teman-teman lakukan, memberikan pengalaman yang sangat luar biasa. Hal tersebut dikarenakan apa yang saya pelajari, kemudian langsung saya praktekkan ke lapangan. Memberikan pelatihan bagi adik-adik TK Dharma Pancasila dalam memanfaatkan barang bekas, membuat saya senang karena saya bisa berbagi ilmu kepada mereka serta mengajarkan mereka untuk perduli dan melatih mereka untuk menjaga lingkungan.

Ada tantangan tersendiri bagi saya ketika berusaha beradaptasi dan mengontrol adik-adik di TK Dharma Pancasila. Awalnya saya berusaha mengambil attention mereka , kemudian dari situlah saya dan mereka mulai bisa akrab. Ketika memberikan pengajaran, ada juga adik-adik tersebut yang berkelahi dengan temannya karena hal kecil, ada juga yang berlari-lari mengelilingi kelas dan mengganggu kelompok lain, tetapi hal tersebut sangat menyenangkan bagi saya, itulah dunia anak-anak. Apapun tantangan yang saya dapatkan, itu semua menjadi pengalaman yang berharga bagi saya dan teman-teman kelompok saya.🙂

  • Vivian Felicia
Proyek Micro Teaching ini cukup menyenangkan dan memberikan pengalaman baru bagi saya, karena langsung berinteraksi dengan anak TK dan mencoba mengajari mereka sesuatu. Dengan pengajaran ini pun membuat saya memahami dalam mengajar anak-anak harus lebih sabar dan tentunya berbeda dengan orang dewasa, dimana kita harus menggunakan bahasa yang bisa dimengerti anak-anak dan membuat mereka tertarik.
  • Zukhrini Khalish N
 Proses micro teaching yang saya jalani ini memberikan tambahan ilmu dan pengalaman. Bebagi ilmu dengan adik – adik TK Dhama Pancasila yang lucu dan antusias memberi penguatan tersendiri bagi saya untuk semangat mebagikan ilmu. Saya juga menyadari betapa beratnya menanamkan pengetahuan dan kesan moral yang baik bagi anak – anak. Saat proses berlangsung banyak juga anak – anak yang sangat aktif, berlari – lari, rebutan dan saling bersaing demi mendapat perhatian. Jadi sebagai pengajar, saya merasa tertuntut untuk memberikan perhatian yang seimbang. Menjadi guru memang harus cerdas, cermat, adil, dan sabar. Saya senang bisa berbagi sedikit ilmu yang saya miliki kepada mereka.
  • Dealovalia Hasibuan
 Bermain dan belajar bersama dengan anak – anak merupakan hal yang pada awalnya sangat sulit untuk dilakukan. karena tidak mudah  untuk kita dapat bergabung dengan mereka. akan tetapi setelah beberapa saat ternyata smuanya menjadi sangat menyenangkan dan menarik. karena mereka ramah, baik, aktif dan juga mau diajak untuk bermain dan belajar bersama. apalagi dalam hal membuat suatu benda yang mungkin tidak mereka dapat dari guru mereka. intinya bisa bersama mereka adalah hal yang menyenangkan……..
saya sangat merasa senang dan juga merasa bahagia dapat berbagi ilmu dengan mereka dan bermain bersama mereka…
😀
  • Putra Pratama
pada saat perencanaan tugas micro-teaching ini, kami merencanakannya dengan agak terburu-buru karena kami santai diawal perkuliahan. pada saat akan melakukan micro-teaching kami sudah mempersiapkan semua peralatan dan akhirnya kami melaksanakan micro-teaching tersebut. proses pelaksanaan micro-teaching berjalan lancar karena semua anggota kelompok mengerjakan tugasnya dengan baik sehingga proses pelaksanaannya menjadi baik. micro-teaching memberikanr pengalaman yang luar biasa karena kami belajar mengelola kelas dan berinteraksi dengan murid-murid TK.

Sebelum dan sesudah, kami ingin mengucapkan mohon maaf kepada Ibu Dina terlebih dahulu, karena sudah (tentunya tanpa sengaja) menciptakan ketidaknyamanan dalam proses belajar-mengajar pagi tadi.

Perkuliahan pagi hari ini sebenarnya bertujuan untuk mereview tentang UTS yang baru saja berakhir dan sekalian memberikan kesempatan kepada kami untuk melakukan remedial, untuk memperbaiki nilai. Namun karena dalam proses belajar-mengajar tadi pagi kami kurang aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan dosen, perkuliahan tadi menjadi tidak efektif, dan itu menyebabkan dosen lebih memilih untuk meninggalkan kelas.

Sebagai mahasiswa, kami sadar, itu adalah salah kami. Dosen sudah berusaha untuk menjadi fasilitator untuk membantu kami memahami pelajaran, tetapi kami malah pasif di dalam kelas, tidak memberikan respon ketika ditanya.

Mahasiswa adalah penerus bangsa. Mahasiswa adalah agen perubahan (agent of change). Mahasiswa adalah insan terdidik yang perilakunya akan menjadi acuan oleh masyarakat. Dari serangkaian definisi kata ‘mahasiswa’ tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam sebuah proses belajar-mengajar, mahasiswa sebagai pembelajar lah yang seharusnya aktif untuk mendapatkan ilmu, bukan pasif menunggu ilmu datang dengan sendirinya.

Semoga dengan pengalaman perkuliahan hari ini, kami semua dapat tersadar bahwa kami ini sudah menyandang status MAHASISWA, dan harus lebih Mandiri serta AKTIF dalam proses pembelajaran di manapun kita berada.

TESTIMONI UTS Semester 4

Secara garis besar, UTS yang dilakukan secara online ini sudah memenuhi beberapa asumsi dari Andragogi tentang desain belajar. Asumsi-asumsi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Orang dewasa perlu mengetahui mengapa mereka harus mempelajari sesuatu
  2. Orang dewasa perlu belajar atas dasar pengalaman
  3. Orang dewasa belajar dengan lebih baik ketika topik yang dipelajari memiliki nilai langsung

Dalam pelaksanaan UTS ini, kami (peserta ujian) mengetahui mengapa kita harus mengikuti ujian ini, kami dapat belajar langsung atas pengalaman UTS secara online (metode ujian yang sama sekali baru bagi kami), dan saya pribadi juga merasa mendapatkan suatu nilai atau pelajaran yang baru melalui UTS online ini, yakni bahwa ternyata ujian juga bisa dilakukan secara online, tanpa harus dilaksanakan secara konvensional.

Banyak sisi positif yang bisa didapat dari sistem ujian seperti ini. Mengurangi penggunaan kertas (support pencegahan Global Warming) dan efisiensi waktu adalah beberapa di antara manfaat UTS secara online ini. Namun ada juga beberapa kendala dalam sistem UTS online ini menurut saya, yakni bahwa mahasiswa yang tidak memiliki akses internet di rumah menjadi terpaksa harus berusaha sedikit ekstra untuk mendapatkan koneksi internet (pergi kampus untuk memakai wi-fi atau pergi ke warnet). Dan meskipun koneksi internet sudah didapat, belum tentu soal ujian sudah diposting sehingga mahasiswa harus menunggu tanpa pernah mengetahui harus menunggu selama apa.

Sisi negatif lain dari sistem ujian seperti ini adalah bahwa Tidak adanya jaminan bahwa orang yang menjawab adalah mahasiswa itu sendiri. Tidak tertutup kemungkinan bagi mahasiswa untuk menyuruh orang lain yang lebih kompeten daripada diri mereka (kakak, orangtua, teman, ‘orang bayaran’) untuk membantu mereka memberikan jawaban.

Referensi:

Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi, Bandung: Alfabeta.

UTS Paedagogi