Psychology – Psikologi

Archive for April, 2012

LAPORAN PELAKSANAAN MICRO TEACHING

Kelompok 4
Anggota              :  Dwika Septian Ihsan      (091301013)
                                   Rizqi Chairiyah               (101301007)
                                   Vivian Felicia                  (101301043)
                                Zukhrini Khalish N         (101301053)
                                Dealovalia Hasibuan      (101301074)
                                Putra Pratama                 (101301100)

Sekolah                       : TK DHARMA PANCASILA

Jumlah Murid              : 11 Orang
Usia Murid                  : Rata-rata 5 Tahun
Tema Pengajaran         : Go Green
Standar Kompetensi   : Siswa mampu memahami bahwa barang-barang bekas dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat, dan siswa memiliki kesadaran akan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya.
Alokasi Waktu            : 60 menit
I.      Pendahuluan
          Pada zaman sekarang ini, banyak orang kurang peduli terhadap lingkungannya. Mereka terbiasa membuang barang sekali pakai, contohnya setelah mengkonsumsi makanan ringan, kemasan pembungkusnya langsung dibuang begitu saja. Bila terus dibiarkan hal ini akan menjadi pencemaran lingkungan yang berdampak negatif terhadap diri mereka. Limbah dari bahan plastik merupakan limbah yang paling berbahaya, karena sulit dihancurkan dalam waktu singkat, jika ditanam akan sulit melebur, sedangkan jika  dibakar akan menghasilkan senyawa karbon monoksida, serta partikel dioksin dan klorin yang sangat berbahaya. Selain plastik, banyak juga limbah yang mencemari lingkungan dan sulit diuraikan oleh bakteri, seperti kertas, kaleng bekas, logam, sterofoam dan sebagainya.
            Mengingat banyaknya barang bekas yang sudah tidak terpakai dan hanya menjadi sampah, membuat kami tertarik untuk membahas topik ini. Selain mengurangi sampah, juga bisa menghasilkan barang yang berguna serta bernilai seni dan ekonomi. Memanfaatkan barang bekas, bukan hanya tugas orang dewasa, tetapi juga harus mulai diajarkan sejak dini. Anak – anak perlu memahami pentingnya menjaga lingkungan.
          Dari latar belakang tersebut, kami merasa pelu membantu adik – adik usia dini untuk sama – sama menjaga lingkungan. Kegiatan  Micro Teaching  yang bertemakan “Go Green” dengan berfokus kepada pemanfaatan barang bekas yang akan dilaksanakan di Taman Kanak – Kanak Dharma Pancasila, Medan, diharapkan mampu memberikan pengajaran kepada anak usia dini tentang pentingnya menjaga lingkungan.
      II.  Landasan Teori
     Banyak orang yang mengatakan mengajar adalah ilmu, dimana kegiatan mengajar harus bebasis dan dipandu oleh ilmu. Konsep ini menekankan pada aspek ilmiah dalam kegiatan pengajaran dan berfokus pada cara-cara melakukan sistematisasi komunikasi antara guru dan siswa. Konsep ini percaya bahwa adalah mungkin untuk secara sistematis memilih bahan, mengatur interaksi guru dengan siswa, interaksi antar sesama siswa, dan menentukan bahan-bahan yang harus dipelajari oleh siswa, sehingga mengurangi kemungkinan kegiatan pembelajaran terjadi secara kebetulan.
    Banyak orang juga percaya mengajar adalah seni. Konsep ini memposisikan mengajar sebagai aktivitas “ilmiah” memang dapat diformalkan, namun jika dipaksakan, akan terjadi birokratisasi dan pemaksaan aktivitas belajar. Penganut konsep ini berpendapat bahwa mengajar sebenarnya merupakan intuisi, improvisasi, dan ekspesi.
     Guru harus mampu melakukan dan menangani proses kreatif secara tidak terduga di dalam kelas. Dalam kegiatan mengajar, tidak ada resep gagal-aman secara rutinitas. Aktivitas yang paling penting dari kegiatan mengajar adalah mengelola peristiwa-peristiwa yang terjadi selama proses pembelajaran itu.
     Intinya, setiap guru harus siap menerima semua perilaku anak-anak dalam kelas, karena anak-anak pada umumnya berperilaku secara spontan.
III. Tujuan Pembelajaran
1.      Memiliki kesadaran untuk menjaga keindahan lingkungan (Bumi) dengan membuang sampah pada tempatnya
2.      Memahami bahwa barang-barang bekas (sampah) dapat diolah menjadi sesuatu yang berguna
3.      Meningkatkan kreativitas
4.      Mengetahui manfaat menabung
5.      Memiliki kebiasaan menabung sejak dini
IV. Metode Pembelajaran
1.        Workshop
Guru-guru berhadapan langsung dengan murid dan mengajari mereka langkah-langkah membuat celengan.
2.      Diskusi
Sebelum, selama, dan setelah proses workshop, guru-guru terus mengajak siswa-siswinya untuk berdiskusi mengenai manfaat celengan, manfaat membuang sampah pada tempatnya, dan manfaat mengolah barang bekas menjadi sesuatu yang berguna.

V.  Alat dan Bahan Pembelajaran

1.      12 buah botol bekas
2.      Kertas-kertas bekas (Majalah, Brosur, Kalender, HVS)
3.      Gunting
4.      Lem
5.      Koin-koin
VI. Langkah-langkah Pembelajaran
VII. Video Dokumentasi
 
VII. TESTIMONI
  • Johan Wibawa
Capek, tapi SERUUUUU…. itulah pendapat pribadiku mengenai kegiatan micro teaching ini. Capek karena agak susah meng-handle murid-murid yang super aktif, dan Seru karena ini adalah pengalaman pertama mengajar anak-anak kecil seperti mereka.
Selain itu,  pada tahap persiapan/perencanaan juga banyak sekali hal yang dapat menjadi pelajaran bagi pribadi aku. Capek dan Seru juga tentunya… Capek karena mengalami sedikit kesulitan dalam mencari ide/topik pengajaran, dan SERU karena semua anggota kelompok kami bisa diajak bekerja sama dengan sangat baik!
Overall, kegiatan ini benar-benar CAPEK dan SERUUUUUUUU…. 😀
  • Dwika Septian Ihsan
 Sayang, saya tidak bisa ikut serta pada pelaksanaan micro teaching ini. Sebelum hari H saya sakit mendadak. tapi Alhamdulillah saya dapat ikut serta merasakan kegembiraan prosesi ini dengan melihat dokumentasi dari teman-teman, terlebih ketika saya diberi amanah menyunting dokumentasi menjadi video berdurasi 8 menit, serasa saya berada disana dan melihat tingkah lucu mereka. Mendengar cerita teman-teman, agak sulit memang membangun kondisi yang komunikatif dengan anak-anak, didasari sifat mereka yang spontanitas dan aktif, serta memang mereka dalam kehidupan untuk bermain. tapi dsitulah tantangannya, bagaimana menanamkan etika dan moral sejak dini menjadi yang menjadi harapan. Intinya, luar biasa…

“belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu..”

  • Rizqi Chairiyah
Proses micro teaching yang saya dan teman-teman lakukan, memberikan pengalaman yang sangat luar biasa. Hal tersebut dikarenakan apa yang saya pelajari, kemudian langsung saya praktekkan ke lapangan. Memberikan pelatihan bagi adik-adik TK Dharma Pancasila dalam memanfaatkan barang bekas, membuat saya senang karena saya bisa berbagi ilmu kepada mereka serta mengajarkan mereka untuk perduli dan melatih mereka untuk menjaga lingkungan.

Ada tantangan tersendiri bagi saya ketika berusaha beradaptasi dan mengontrol adik-adik di TK Dharma Pancasila. Awalnya saya berusaha mengambil attention mereka , kemudian dari situlah saya dan mereka mulai bisa akrab. Ketika memberikan pengajaran, ada juga adik-adik tersebut yang berkelahi dengan temannya karena hal kecil, ada juga yang berlari-lari mengelilingi kelas dan mengganggu kelompok lain, tetapi hal tersebut sangat menyenangkan bagi saya, itulah dunia anak-anak. Apapun tantangan yang saya dapatkan, itu semua menjadi pengalaman yang berharga bagi saya dan teman-teman kelompok saya. 🙂

  • Vivian Felicia
Proyek Micro Teaching ini cukup menyenangkan dan memberikan pengalaman baru bagi saya, karena langsung berinteraksi dengan anak TK dan mencoba mengajari mereka sesuatu. Dengan pengajaran ini pun membuat saya memahami dalam mengajar anak-anak harus lebih sabar dan tentunya berbeda dengan orang dewasa, dimana kita harus menggunakan bahasa yang bisa dimengerti anak-anak dan membuat mereka tertarik.
  • Zukhrini Khalish N
 Proses micro teaching yang saya jalani ini memberikan tambahan ilmu dan pengalaman. Bebagi ilmu dengan adik – adik TK Dhama Pancasila yang lucu dan antusias memberi penguatan tersendiri bagi saya untuk semangat mebagikan ilmu. Saya juga menyadari betapa beratnya menanamkan pengetahuan dan kesan moral yang baik bagi anak – anak. Saat proses berlangsung banyak juga anak – anak yang sangat aktif, berlari – lari, rebutan dan saling bersaing demi mendapat perhatian. Jadi sebagai pengajar, saya merasa tertuntut untuk memberikan perhatian yang seimbang. Menjadi guru memang harus cerdas, cermat, adil, dan sabar. Saya senang bisa berbagi sedikit ilmu yang saya miliki kepada mereka.
  • Dealovalia Hasibuan
 Bermain dan belajar bersama dengan anak – anak merupakan hal yang pada awalnya sangat sulit untuk dilakukan. karena tidak mudah  untuk kita dapat bergabung dengan mereka. akan tetapi setelah beberapa saat ternyata smuanya menjadi sangat menyenangkan dan menarik. karena mereka ramah, baik, aktif dan juga mau diajak untuk bermain dan belajar bersama. apalagi dalam hal membuat suatu benda yang mungkin tidak mereka dapat dari guru mereka. intinya bisa bersama mereka adalah hal yang menyenangkan……..
saya sangat merasa senang dan juga merasa bahagia dapat berbagi ilmu dengan mereka dan bermain bersama mereka…
😀
  • Putra Pratama
pada saat perencanaan tugas micro-teaching ini, kami merencanakannya dengan agak terburu-buru karena kami santai diawal perkuliahan. pada saat akan melakukan micro-teaching kami sudah mempersiapkan semua peralatan dan akhirnya kami melaksanakan micro-teaching tersebut. proses pelaksanaan micro-teaching berjalan lancar karena semua anggota kelompok mengerjakan tugasnya dengan baik sehingga proses pelaksanaannya menjadi baik. micro-teaching memberikanr pengalaman yang luar biasa karena kami belajar mengelola kelas dan berinteraksi dengan murid-murid TK.

Testimoni Perkuliahan Tanggal 23 April 2012

Sebelum dan sesudah, kami ingin mengucapkan mohon maaf kepada Ibu Dina terlebih dahulu, karena sudah (tentunya tanpa sengaja) menciptakan ketidaknyamanan dalam proses belajar-mengajar pagi tadi.

Perkuliahan pagi hari ini sebenarnya bertujuan untuk mereview tentang UTS yang baru saja berakhir dan sekalian memberikan kesempatan kepada kami untuk melakukan remedial, untuk memperbaiki nilai. Namun karena dalam proses belajar-mengajar tadi pagi kami kurang aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan dosen, perkuliahan tadi menjadi tidak efektif, dan itu menyebabkan dosen lebih memilih untuk meninggalkan kelas.

Sebagai mahasiswa, kami sadar, itu adalah salah kami. Dosen sudah berusaha untuk menjadi fasilitator untuk membantu kami memahami pelajaran, tetapi kami malah pasif di dalam kelas, tidak memberikan respon ketika ditanya.

Mahasiswa adalah penerus bangsa. Mahasiswa adalah agen perubahan (agent of change). Mahasiswa adalah insan terdidik yang perilakunya akan menjadi acuan oleh masyarakat. Dari serangkaian definisi kata ‘mahasiswa’ tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam sebuah proses belajar-mengajar, mahasiswa sebagai pembelajar lah yang seharusnya aktif untuk mendapatkan ilmu, bukan pasif menunggu ilmu datang dengan sendirinya.

Semoga dengan pengalaman perkuliahan hari ini, kami semua dapat tersadar bahwa kami ini sudah menyandang status MAHASISWA, dan harus lebih Mandiri serta AKTIF dalam proses pembelajaran di manapun kita berada.

TESTIMONI UTS Semester 4

Secara garis besar, UTS yang dilakukan secara online ini sudah memenuhi beberapa asumsi dari Andragogi tentang desain belajar. Asumsi-asumsi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Orang dewasa perlu mengetahui mengapa mereka harus mempelajari sesuatu
  2. Orang dewasa perlu belajar atas dasar pengalaman
  3. Orang dewasa belajar dengan lebih baik ketika topik yang dipelajari memiliki nilai langsung

Dalam pelaksanaan UTS ini, kami (peserta ujian) mengetahui mengapa kita harus mengikuti ujian ini, kami dapat belajar langsung atas pengalaman UTS secara online (metode ujian yang sama sekali baru bagi kami), dan saya pribadi juga merasa mendapatkan suatu nilai atau pelajaran yang baru melalui UTS online ini, yakni bahwa ternyata ujian juga bisa dilakukan secara online, tanpa harus dilaksanakan secara konvensional.

Banyak sisi positif yang bisa didapat dari sistem ujian seperti ini. Mengurangi penggunaan kertas (support pencegahan Global Warming) dan efisiensi waktu adalah beberapa di antara manfaat UTS secara online ini. Namun ada juga beberapa kendala dalam sistem UTS online ini menurut saya, yakni bahwa mahasiswa yang tidak memiliki akses internet di rumah menjadi terpaksa harus berusaha sedikit ekstra untuk mendapatkan koneksi internet (pergi kampus untuk memakai wi-fi atau pergi ke warnet). Dan meskipun koneksi internet sudah didapat, belum tentu soal ujian sudah diposting sehingga mahasiswa harus menunggu tanpa pernah mengetahui harus menunggu selama apa.

Sisi negatif lain dari sistem ujian seperti ini adalah bahwa Tidak adanya jaminan bahwa orang yang menjawab adalah mahasiswa itu sendiri. Tidak tertutup kemungkinan bagi mahasiswa untuk menyuruh orang lain yang lebih kompeten daripada diri mereka (kakak, orangtua, teman, ‘orang bayaran’) untuk membantu mereka memberikan jawaban.

Referensi:

Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi, Bandung: Alfabeta.

UTS Paedagogi

Action Plan

Kelompok 4
Koordinator: Johan Wibawa (101301042)
Anggota:  Dwika Septian Ihsan (091301013)
Rizqy Chairiyah (101301007)
Vivian Felicia (101301043)
Zukhrini Khalish N (101301053)
Dealovalia Hasibuan (101301074)
Putra Pratama (101301100)
Tema : Go Green
Topik : Memanfaatkan Barang Bekas
Perencanaan
A.      Pendahuluan
        Pada zaman sekarang ini, banyak orang kurang peduli terhadap lingkungannya. Mereka terbiasa membuang barang sekali pakai, contohnya setelah mengkonsumsi makanan ringan, kemasan pembungkusnya langsung dibuang begitu saja. Bila terus dibiarkan hal ini akan menjadi pencemaran lingkungan yang berdampak negatif terhadap diri mereka. Limbah dari bahan plastik merupakan limbah yang paling berbahaya, karena sulit dihancurkan dalam waktu singkat, jika ditanam akan sulit melebur, sedangkan jika  dibakar akan menghasilkan senyawa (X) yang sangat berbahaya. Selain plastik, banyak juga limbah yang mencemari lingkungan dan sulit diuraikan oleh bakteri, seperti kertas, kaleng bekas, logam, stearofoam dan sebagainya.
Mengingat banyaknya barang bekas yang sudah tidak terpakai dan hanya menjadi sampah, membuat kami tertarik untuk membahas topik ini. Selain mengurangi sampah, juga bisa menghasilkan barang yang berguna serta bernilai seni dan ekonomi. Memanfaatkan barang bekas, bukan hanya tugas orang dewasa, tetapi juga harus mulai diajarkan sejak dini. Anak – anak perlu memahami pentingnya menjaga lingkungan.
Dari latar belakang tersebut, kami merasa pelu membantu adik – adik usia dini untuk sama – sam`a menjaga lingkungan. Kegiatan  Micro Teaching  yang bertemakan “Go Green” dengan berfokus kepada pemanfaatan barang bekas yang akan dilaksanakan di Taman Kanak – Kanak Dharma Pancasila, Medan, diharapkan mampu memberikan pengajaran kepada anak usia dini tentang pentingnya menjaga lingkungan.
B.      Landasan Teori
Banyak orang yang mengatakan mengajar adalah ilmu, dimana kegiatan mengajar harus bebasis dan dipandu oleh ilmu. Konsep ini menekankan pada aspek ilmiah dalam kegiatan pengajaran dan berfokus pada cara-cara melakukan sistematisasi komunikasi antara guru dan siswa. Konsep ini percaya bahwa adalah mungkin untuk secara sistematis memilih bahan, mengatur interaksi guru dengan siswa, interaksi antar sesama siswa, dan menentukan bahan-bahan yang harus dipelajari oleh siswa, sehingga mengurangi kemungkinan kegiatan pembelajaran terjadi secara kebetulan.
Banyak orang juga percaya mengajar adalah seni. Konsep ini memposisikan mengajar sebagai aktivitas “ilmiah” memang dapat diformalkan, namun jika dipaksakan, akan terjadi birokratisasi dan pemaksaan aktivitas belajar. Penganut konsep ini berpendapat bahwa mengajar sebenarnya merupakan intuisi, improvisasi, dan ekspesi.
Guru harus mampu melakukan dan menangani proses kreatif secara tidak terduga di dalam kelas. Dalam kegiatan mengajar, tidak ada resep gagal-aman secara rutinitas. Aktivitas yang paling penting dari kegiatan mengajar adalah mengelola peristiwa-peristiwa yang terjadi selama proses pembelajaran itu.
Intinya, setiap guru harus siap menerima semua perilaku anak-anak dalam kelas, karena anak-anak pada umumnya berperilaku secara spontan.
C.      Alat dan Bahan
Dalam melakukan kegiatan prakarya ini, peralatan dan bahan-bahan yang akan kelompok kami gunakan adalah sebagai berikut:
1.       Gunting
2.       Lem
3.       Pensil
4.       Botol bekas air mineral
5.       Kertas kalender bekas
6.       Kertas koran bekas
7.       Kamera digital
8.       Beberapa hadiah (reward)
Nb: semua barang bekas telah dibersihkan
D.      Peserta
Yang akan menjadi peserta dalam kegiatan prakarya yang kami selenggarakan ini adalah siswa-siswi TK Dhama Pancasila, yang berjumlah sebanyak 15 orang.
E.       Proses Kegiatan
Pada hari kamis tanggal 19 april 2012 kami akan melaksanakan kegiatan prakarya di TK Dharma Pancasila. Kegiatan akan dimulai pada pukul 09.00 WIB didalam kelas. Diawali dengan perkenalan dan pembagian kelompok yang terdiri dari 3 orang anggota pada setiap kelompok. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian instruksi tentang cara pengerjaan prakarya. Setelah itu anak-anak TK mulai mengerjakan prakarya dengan dibantu oleh satu orang pengajar disetiap kelompok. Setelah kegiatan mengerjakan prakarya selesai, akan dilanjutkan dengan games. Kegiatan terakhir yang akan kami laksanakan adalah pemberian reward kepada kelompok terbaik.
F.       Jadwal Kegiatan
Diskusi perencanaan dan konsep Micro Teaching                   Sabtu, 07 April 2012
Observasi lokasi Micro Teaching (TK Dharma Pancasila)     Senin, 09 April 2012
Diskusi proses pelaksanaan Micro Teaching                              Senin, 09 April 2012
Posting perencanaan kegiatan (action plan)                              Selasa,10 April 2012
Pengajuan surat permohonan ke TK Dharma Pancasila         Rabu,  11 April 2012
Micro Teaching                                                                                       Kamis, 19 April 2012
Edit video                                                                                                   Kamis, 19 April 2012
Posting hasil pelaksanaan Micro Teaching                                   Sabtu, 21 April 2012
G.     Kalkulasi Dana

Reward                                                                             Rp  100.000

Guruku Cerdas, Guruku Jenius !

Ada berapa banyak guru yang terdapat di muka bumi ini? Jawabannya: ada Sebanyak orang yang hidup di muka bumi ini. Karena pada dasarnya, semua orang (tanpa pengecualian) memiliki potensi untuk menjadi seorang guru, baik bagi banyak orang maupun bagi diri sendiri.

Semua orang bisa menjadi guru, tetapi tidak semuanya dapat menjadi seorang guru yang baik dan benar, yang benar-benar dapat mentransformasikan ilmunya kepada peserta didiknya. Dalam konteks lingkungan pendidikan (sekolah), ada beberapa ciri seorang guru dapat dikatakan cerdas atau jenius.

Pertama, guru yang cerdas pada intinya mencerminkan KETERPELAJARAN.

Kedua, karakteristik seorang guru yang jenius adalah INTEGRITAS.

Ketiga, seorang guru yang cerdas seharusnya mempunyai kemampuan BERKOMUNIKASI yang baik dengan siswa-siswinya.

Beberapa contoh di bawah ini memberikan gambaran tentang sosok seorang guru yang cerdas dan jenius, serta diterima secara menyenangkan oleh siswa-siswinya:

  1. Mengetahui nama semua siswa dan memanggil mereka dengan nama mereka,
  2. Menerima salam dari siswanya secara menyenangkan,
  3. Menceritakan tentang kebenaran kepada siswa,
  4. Menolak tindakan sarkastik jika melucu atau berkelakar kepada rekan dan siswanya.

Referensi:

Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi, Bandung: Alfabeta.

Observasi dan Perencanaan Mengajar

Perbedaan antara seorang guru yang kompeten dan yang tidak, kadang tidak hanya terletak pada tingkat intelegensi yang dimiliki, tetapi juga pada persiapan atau perencanaan yang dibuat. Seorang guru yang memiliki intelegensi tinggi, juga dapat gagal mendidik murid-muridnya jika guru yang bersangkutan tidak memiliki perencanaan yang matang tentang bagaimana seharusnya sebuah mata pelajaran itu diajarkan.

Ada beberapa prinsip dalam membuat perencanaan pengajaran yang harus diperhatikan guru :

  • Perencanaan pengajaran harus berdasarkan kondisi siswa.
  • Perencanaan pengajaran harus berdasarkan kurikulum yang berlaku.
  • Perencanaan harus memperhitungkan waktu yang tersedia
  • Perencanaan pengajaran harus merupakan urutan kegiatan belajar – mengajar yang sistematis.
  • Perencanaan pengajaran bila perlu lengkapi dengan lembaran kerja/tugas dan atau lembar observasi.
  • Perencanaan pengajaran harus bersifat fleksibel.

Fungsi observasi juga sangat diperlukan oleh seorang guru dalam membuat sebuah perencanaan yang baik dan benar. Mempertimbangkan kurikulum yang diterapkan sekolah, mengamati perkembangan peserta didik, dan memperhitungkan faktor internal dan eksternal dalam sebuah proses belajar-mengajar adalah beberapa kegiatan observasi yang dapat dilakukan oleh seorang guru untuk merencanakan proses mengajarnya. Intinya, seorang guru harus peka terhadap teknik mengajarnya, dan melakukan evaluasi apakah teknik/perencanaan yang digunakan sudah cukup efektif atau belum.

Referensi:

http://yogoz.wordpress.com/2011/04/29/281/#more-281

http://infopendidikan189.blogspot.com/2010/06/perencanaan-pengajaran-fungsi-peranan.html

http://www.psb-psma.org/content/blog/tips-dan-trik-menyusun-jadwal-pelajaran

http://pengertian-program-tahunan.html