Psychology – Psikologi

Archive for March, 2012

Paedagogi Praktis

Irene Anastasya Ginting (10-041)

Johan Wibawa (10-042)

Dede Suhendri (10-078)

Paedagogi praktis (vernakular) adalah pengaplikasian ilmu-ilmu paedagogi yang bersifat teoritis. Paedagogi itu sendiri memiliki makna seni mengajar yang bertujuan untuk membuat peserta didik mengerti dengan bahan atau materi yang diajarkan. Paedagogi praktis lahir karena adanya pemikiran bahwa paedagogi tidak sekadar hanya membutuhkan pemahaman akan teori (abstrak), tetapi juga harus bisa diaplikasikan dalam kegiatan belajar-mengajar (konkret).

Pada masa-masa kami sekolah dulu, guru-guru belum menerapkan ilmu paedagogi. Sistem mengajar yang diterapkan masih sangat konvensional, dan kadang menggunakan kekerasan fisik (misalnya memukul dengan mistar kayu)  untuk mengatur peserta didiknya. Cara mengajar yang diterapkan juga banyak yang tidak berhasil membuat peserta didiknya mengerti dan paham, karena kebanyakan guru hanya menyampaikan materi secara teoritis dan cenderung membosankan.

Mayoritas guru pada masa sekarang ini memang sudah tidak lagi menggunakan kekerasan fisik terhadap peserta didiknya, tetapi juga masih belum sepenuhnya menerapkan ilmu paedagogi. Seni mengajar guru masa kini memang sudah semakin bervariasi. Akan tetapi, meski masing-msaing guru memiliki metode mengajar yang berbeda, guru yang bersangkutan juga belum 100% berhasil membuat peserta didiknya paham terhadap materi yang diajarkan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya siswa yang mengambil kursus tambahan di luar jam sekolah. Siswa-siswa merasa belum paham sepenuhnya terhadap penjelasan yang diberikan guru, sehingga kursus-kursus terpaksa menjadi alternatif mereka.

Referensi:

Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi, Bandung: Alfabeta.

Pedagogi Praktis Abad 21

Pedagogi abad ke-21 dikenal juga dengan sebutan Pedagogi Progresif (Progressive Pedagogy).

Pedagogi, pada saat pertama kali diciptakan, hanya sekadar mengandung arti: seni dan ilmu mengajar. Namun seiring berkembangnya zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, pedagogi mengalami sedikit pergeseran makna. Pedagogi, pada abat ke-21 ini, tidak hanya berbicara mengenai seni dan limu mengajar, melainkan juga mendorong banyak orang untuk melakukan redesain dan pemahaman ulang atas bagaimana menggunakannya untuk merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kemajuan zaman.

Pada masa yang serba canggih seperti saat ini, pedagogi yang abstrak juga dituntut untuk dapat menunjukkan kecanggihannya: harus mampu menjelmakan sesuatu menjadi sesuatu yang konkret. Pedagogi tidak sekadar menuntut pemahaman, tetapi harus juga menuntut bagaimana cara pengaplikasiannya. Sebuah teori sebagus apapun tidak akan ada gunanya jika teori tersebut tidak pernah diterapkan dalam kehidupan nyata untuk membantu umat manusia.

Referensi:

Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi, Bandung: Alfabeta.

Profil Guru yang Ideal

Seseorang yang sangat ahli dalam suatu bidang, menguasai semua ilmu pengetahuan dan menjadi seorang Master dalam bidangnya, tidak menjamin seseorang tersebut dapat menjadi seorang Guru yang baik yang dapat mengajarkan semua ilmunya kepada para murid. Oleh karena itulah, seseorang yang ingin menjadi guru, sebelumnya harus dibekali dengan Pendidikan Prajabatan Guru (preservice teacher education).

 

Pendidikan prajabatan guru mengacu pada kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk membekali calon guru dengan pengetahuan, sikap, perilaku, dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk melakukan tugas-tugas secara efektif dalam kelas, sekolah, dan masyarakat luas setelah mereka menjalankan tugas sesungguhnya.

(more…)

Prinsip-Prinsip Paedagogis ! (Semua Guru WAJIB BACA!)

Prinsip-prinsip proses paedagogis adalah tesis dasar teori psikopaedagogis, pada arah proses paedagogis yang menjadi standar dan prosedur tindakan untuk menentukan dasar paedagogis yang paling penting dalam proses pendidikan kepribadian.

Beberapa prinsip proses paedagogis yang dikemukakan oleh Addine (2001) adalah sebagai berikut:

  • Kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari proses paedagogis.
  • Salah satu yang yang mengombinasikan karakter kolektif dan individual pendidikan, serta penghormatan terhadap kepribadian siswa.
  • Prinsip berikutnya merujuk pada kesatuan pengajaran, pendidikan dan perkembangan proses, karena didasarkan pada kesatuan dialektis antara pendidikan dan pengajaran yangharus terkait dengan kegiatan pembangunan pada umumnya.
  • Masing-masing subsistem aktivitas, komunikasi, dan kepribadian saling terkait satu sama lain.

Referensi:

Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi., Bandung: Alfabeta.

Peran Paedagog

Sebuah proses belajar mengajar, akan lebih efektif jika pengajar (guru) telah membuat persiapan mengajar terlebih dahulu sebelum kelas dimulai. Namun itu tidak berarti bahwa guru yang tidak melakukan persiapan akan menghasilkan proses belajar yang buruk atau tidak efektif.  Semuanya kembali kepada bagaimana cara guru yang bersangkutan membawakan pelajarannya supaya menarik dan tepat guna bagi murid-muridnya.

Seorang paedagog memegang peran yang cukup penting di sini, dalam hal supaya sebuah proses belajar mengajar dapat lebih efektif dan menginspirasi siswa-siswi supaya lebih termotivasi. Beberapa peran seorang paedagog adalah sebagai berikut:

  • Menetapkan tujuan-tujuan pembelajaran yang sesuai dan mampu mengkomunikasikannya
  • Menunjukkan sikap positif dan kepercayaan terhadap siswa
  • Mengevaluasi dan menilai siswa
  • Mendorong siswa berpikir dan memberdayakan diri untuk menemukan kreativitas mereka
  • Mempromosikan berbagai ide-ide, ekspresi dan pendapat yang terbuka
  • Memandu siswa berhasil belajar melalui eksplorasi proses pemecahan masalah secara kreatif
  • Mempromosikan penemuan siswa
  • Menjadikan mengajar dan belajar sebagai kegiatan ilmiah
  • Menunjukkan rasa komitmen yang kuat bagi komunitas akademis
  • Memberikan umpan balik secara teratur, konstruktif dan obyektif
  • Menemukan cara yang unik dan kreatif untuk menghubungkan satu sama lain

Referensi:

Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi, Bandung: Alfabeta.

PEDAGOGI PERTEMUAN 2 (5 MARET 2012)

Kesan pertama saya pribadi pada pertemuan kedua kelas Pedagogi adalah agak membosankan. Penyebab utama kebosanan saya itu mungkin karena saya tidak membawa laptop, sementara perkuliahan itu secara keseluruhan menggunakan laptop sebagai sarana belajarnya (belajar tentang USU e-learning).

Unsur pedagogi yang diajarkan pada saat itu juga menurut saya sangatlah kurang. Tidak ada ilmu pedagogi yang disinggung atau diajarkan secara langsung pada tanggal 5 Maret ini, tetapi dosen mengatakan bahwa selama perkuliahan tersebut telah ada sedikit ilmu pedagogi yang diterapkan/diajarkan secara tidak langsung. Berikut adalah ilmu pedagogi yang menurut saya telah diajarkan secara tidak langsung pada saat itu:

(more…)