Psychology – Psikologi

Archive for March, 2011

Delapan Intelegensi Spesifik

Intelegensi adalah keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari.

Howard Gardner mempercayai ada banyak tipe intelegensi spesifik atau kerangka pikiran. Delapan di antaranya adalah sebagai berikut:

1.       Keahlian verbal

Kemampuan untuk berpikir dengan kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan makna.

Contoh : Penulis, Wartawan, Pembicara

2.       Keahlian matematika

Kemampuan untuk menyelesaikan operasi matematika.

Contoh : ilmuwan, insinyur, akuntan

3.       Keahlian spasial

Kemampuan untuk berpikir tiga dimensi.

Contoh : arsitek, perupa, pelaut

4.       Keahlian tubuh kinestetik

Kemampuan untuk memanipulasi objek dan cerdas dalam hal-hal fisik.

Contoh : ahli bedah, pengrajin, penari, atlet

5.       Keahlian music

Sensitif terhadap nada, melodi, irama, dan suara.

Contoh : composer, musisi, dan pendengar yang sensitif

6.       Keahlian intrapersonal

Kemampuan untuk memahami diri sendiri dan menata kehidupan dirinya sendiri secara efektif.

Contoh : teolog, psikolog

7.       Keahlian interpersonal

Kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain.

Contoh : guru teladan, professional kesehatan mental

8.       Keahlian naturalis

Kemampuan untuk mengamati pola0pola di alam dan memahami sistem alam dan sistem buatan manusia.

Contoh : petani, ahli botani, ahli ekologi, ahli tanah

 

Daftar Pustaka:

Santrock, John W. 2007 . Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta : Prenada Media Group.

Distance Learning

Sistem pembelajaran pada masa sekarang ini, sudah tidak hanya terbatas pada pertemuan di dalam kelas saja. Proses belajar-mengajar juga sudah dapat dilakukan tanpa tatap muka antara sang pengajar dan sang pembelajar. Itulah yang sekarang kita sebut sebagai distance learning.

Distance learning adalah bentuk pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan menggunakan modul yang tercetak yang digunakan untuk korespondensi dan pembelajaran berbasis (TIK), seperti televisi, radio, dan computer serta internetnya.

Adapun prinsip-prinsip dalam sistem belajar jarak jauh ini, yakni:

1.       Tujuan yang jelas,

2.       Relevan dengan kebutuhan,

3.       Mutu pendidikan,

4.       Efisiensi dan efektivitas program,

5.       Efektivitas,

6.       Pemerataan,

7.       Kemandirian,

8.       Keterpaduan, dan

9.       Kesinambungan.

 

Daftar Pustaka:

Munir. (2008). Kurikulum berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Bandung: Alfabeta

Hasil Diskusi mengenai Learner-Centered

Wieny Delvonia (10-032)

Johan Wibawa (10-042)

Pada pendekatan learner-centered, instruksi dan perencanaan berfokus pada siswa,bukan guru. Menurut prinsip learner -centered ini, pendidikan akan lebih baik jika fokus utamanya adalah orang yang belajar.
Strategi Instruksional Learner-centered :
1. Pembelajaran berbasis Problem; Membiarkan murid mencari cara pemecahan masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari
2. Pertanyaan Esensial; Memberi pertanyaan yang membawa inti dari kurikulum kepada murid
3. Pembelajaran Penemuan; Membiarkan murid menemukan pemahaman sendiri

Pendekatan learner-centered terbukti telah memberikan banyak pengaruh positif pada murid, beberapa diantaranya : percaya diri, kreatif, aktif, mampu memotivasi diri sendiri, mampu bekerjasama secara efektif dalam kelompok, mampu mengontrol emosi. Namun, tetap saja memiliki kelemahan. Pendekatan learner-centered dinilai kurang memperhatikan kandungan akademiknya, kurang efektif di level pengajaran awal suatu pelajaran karena murid akan bingung tentang apa yang harus mereka pelajari. Oleh karena itu, kebanyakan guru memilih untuk menerapkan kombinasi dari kedua pendekatan tersebut.

Hubungan antara Learner-Centered dengan website Dikti

Menurut kami (Johan Wibawa dan Wieny Delvonia), dengan adanya website seperti itu yang disediakan oleh Dikti, mahasiswa dituntut untuk aktif dan mandiri dalam mendapatkan berbagai informasi yang mereka inginkan dalam konteks pendidikan. Mahasiswa dituntuk untuk mencari tahu sendiri apa saja yang disediakan website tersebut, tanpa campur tangan orang lain sebagai pengajar. Dengan begitu banyaknya link yang terdapat di dalam website tersebut, juga tidaklah mungkin untuk dibahas satu per satu oleh sang pengajar (dosen). Karena apabila dibahas semuanya, hal itu pasti akan sangat boros waktu. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut untuk belajar secara aktif dan mandiri.
Apabila ada yang tidak dimengerti oleh sang murid, murid yang bersangkutan tersebut juga secara tidak langsung dituntut untuk aktif bertanya kepada siapapun orang yang menurutnya dapat menjawab pertanyaannya, misalnya bertanya kepada orang tua, saudara, teman, ataupun guru/dosennya…
Kelebihan/keuntungan yang bisa didapat dari proses belajar learner-centered, khususnya proses belajar yang sudah melibatkan internet, informasi terbaru bisa didapatkan dengan lebih cepat dan sumbernya banyak. Kelebihan lainnya, dengan sering terlibat dalam diskusi, murid menjadi percaya diri, aktif, dan mampu berpikir kritis karena ia berpartisipasi dalam berbagi pendapat, bertanya, dan memikirkan solusi bersama-sama.
Dan kekurangannya, karena sang murid belajarnya sendiri dan tanpa ada jadwal yang pasti, sang murid bisa saja mengulur-ulur waktu (menunda-nunda pembelajaran) dan akhirnya sang murid menjadi pemalas.
Saran dari kami mengenai proses Learner-Centered ini, akan lebih baik apabila di dalam setiap proses pembelajaran seperti ini juga disertakan sebuah sesi diskusi yang memungkinkan antara murid yang satu untuk mendiskusikan pemahamannya dengan murid yang lain ataupun langsung dengan gurunya.

Pentingnya Sebuah Perencanaan

Dalam buku seni perang Sun Tzu yang sangat terkenal itu, ada dibahas mengenai pentingnya sebuah perencanaan. Dikatakan di dalamnya bahwa, apabila kita terjun ke dalam medan perang tanpa perencanaan sama sekali, hasil perang sudah dapat dipastikan. Kita akan kalah!

Begitu pula di dalam dunia pendidikan, sebuah perencanaan itu sangatlah penting! Seorang guru sebelum masuk ke dalam kelas dan memberikan materi pembelajaran, guru yang bersangkutan tersebut haruslah sudah merencanakan teknik-teknik pengajaran yang menurutnya ampuh untuk membantu para siswanya agar mengerti materi yang sedang diajarkan.

Perencanaan adalah aspek penting untuk menjadi guru yang kompeten (Parkay & Mass, 2000). Perencanaan instruksional adalah pengembangan atau penyusunan strategi sistematik dan tertata untuk merencanakan pelajaran. Perencanaan yang seperti inilah yang seharusnya diaplikasikan oleh semua guru. Mereka perlu menentukan mau seperti apa dan bagaimana mereka akan mengajar. Hal ini dilakukan bukan semata-semata bertujuan untuk kepentingan murid saja, melainkan juga untuk kepentingan guru yang bersangkutan agar sang guru lebih percaya diri ketika berada di dalam kelas, serta untuk memaksimalkan waktu yang dimiliki oleh sang guru.

 

Daftar Pustaka:

Santrock, John W. 2007 . Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta : Prenada Media Group.

Suggested Articles :

Sun Tzu’s Art of War